RSS

아직도 그 사람 미워요? Part 3

아직도 그 사람 미워요? ( ajigdo geu saram miweoyo ? )

masihkah kau membencinya?

Part 3

Author : Kim Elza^ ^ a.k.a Han Seul Ra ;p

Main Cast: Kim Bum, Kim So Eun

Cast: Lee Taemin (SHINee), Choi Si Won (SuJu)

Genre: Romantic, Family, Friendship

Type: Sequel

 

Mates cingu, ini adalah par terahir’nya..

Semoga tidak terlalu mengecewakan reader ya..

Baiklah langsung aja, selamat membaca..^____^

_oOo_

Kim Bum telah kembali  sekolah setelah hampir sebulan ia absen. Hari demi hari ia lewatkan di perpustakaan bersama So Eun. Karena tangan kanannya yang baru pulih, ia di anjurkan oleh dokter untuk mengistirahatkan tangannya. Ia di larang bermain basket untuk sementara waktu.

“So Eun~a, apa kau tidak bosan terus-menerus disini?”  tanya Kim Bum  yang mulai bosan berada di surga buku itu.

“kalau kau bosan mengikutiku, bukankah aku sudah memperingatkanmu untuk berhenti mengikutiku..” jawab So Eun yang tetap tenggelam dalam bacaanya.

“aish, bukan itu.. mana mungkin aku bosan mengikutimu.. aku hanya bosan melihat timpukan buku-buku itu..” jelas Kim Bum menunjukkan rak-rak buku di sekitar mereka.

So Eun hanya geleng-geleng kepala.

”sekarang kau yang ikut aku!” Kim Bum menarik paksa tangan So Eun.

“kau mau membawaku kemana?” So Eun mulai kebingungan dengan sikap Kim Bum.

“sudah, ikut saja..!!” Kim Bum membawa So Eun ke belakang sekolah.

Ia memberi isyarat pada So Eun untuk duduk di sampingnya. Di bawah pohon besar, tempat So Eun menerima telfon dari ayahnya saat akan pergi ke Swedia.

“untuk apa kau membawaku kemari?” tanya So Eun yang telah duduk di samping Kim Bum.

“disini udaranya lebih segar, dan pemandangannya pun lebih indah di pandang. Tidak melulu buku terus..” jelas Kim Bum lalu menyandarkan punggungnya pada pohon besar yang menaunginya. So Eun tersenyum memperhatikannya.

“apa hari ini suasana hatimu sedang baik?” tanya Kim Bum saat melihat senyum So Eun.

“eh..” So Eun tak mengerti.

Memang, hanya sedikit perubahan yang terjadi pada So Eun. Setelah ia menceritakan masalahnya pada Kim Bum waktu itu ternyata tak banyak membantu meringankan beban berat dalam hati So Eun. Ada kalanya Kim Bum harus berusaha keras agar bisa membuat sedikit saja senyuman So Eun tersungging di wajah ayunya. Masih sama seperti dulu, tetap suka menyendiri, hanya saja sekarang So Eun sudah terbiasa dengan Kim Bum yang selalu mengekorinya.

“seharusnya kau berterima kasih padaku..” ucapan Kim Bum makin membuat So Eun bingung.

“berterimakasih padamu untuk apa? untuk selalu membuatku kesal..?!” ucap So Eun ketus.

“apa kau tidak merasa, jika sekarang ini kau terlihat lebih bisa menerima takdirmu meski hanya sedikit. Itu membuat bebanmu sedikit berkurang, dan sekarang kau sudah bisa tersenyum tanpa memikirkan masalahmu. Dan itu semua karena aku..” panjang lebar Kim Bum menjelaskan dengan nada bangganya.

“cih, benarkah karenamu? Hebat sekali kau Kim Bum, khamsaeyo..” So Eun berterima kasih tapi dengan nada mencibir.

“apa begitu caramu berterimakasih pada orang yang sangat berjasa padamu?” Kim Bum semakin menyombongkan dirinya.

“memangnya aku harus bagaima…” belum selesai kalimat So Eun, Kim Bum telah menarik dagu So Eun dan mencium tepat dibibirnya. Awalnya So Eun kaget, namun akhirnya ia hanya diam tak menolak. Menikmatinya meski tidak membalas ciuman itu. *nah kan, di jamin reader yang mau ikut ajakan author buat mbuntutin BumSo gak bakal nyesel liat adegan ini..hehehe* #pllaakkk! Author jayus.

Semenit kemudian Kim Bum melepaskan ciumannya, “So Eun~a, sebaiknya kita jadian saja.. kau kan sudah tahu kalau aku sangat mencintaimu, dan akupun tahu sebenarnya kau juga mencintaiku kan?” ajak Kim Bum penuh harap untuk kesekian kalinya pada So Eun.

“kalau memang kau sudah tahu, lalu kenapa kau menanyakan hal itu terus..?!” jawab So Eun tak secara langsung namun bisa di mengerti oleh Kim Bum.

“jadi, kita… ??!” Kim Bum menatap So Eun dengan mata berbinar. So Eun tersenyum penuh arti seolah mengatakan’baiklalah, kita jadian’ pada Kim Bum. “yess!!”

Kim Bum langsung memeluk So Eun, So Eun pun membalas pelukannya.

“So Eun~a, sebentar lagi ujian kelulusan. Kau sudah berencana akan melanjutkan kemana?” tanya Kim Bum masih memeluk So Eun.

So Eun mengangguk dan menjawab,”aku ingin kuliah ke Swedia dan menemui appa.”

“mwo?! Kita baru jadian dan kau langsung akan meninggalkanku?”Kim Bum melepaskan pelukannya.

“kau kan bisa ikut denganku, bukannya kau suka mengikutiku..”

“entahlah, So Eun.. masih ada suatu hal yang belum aku selesaikan..” tatapan Kim Bum menerawang. So Eun terdiam memperhatikan Kim Bum yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.

oOo

So Eun pulang malam di antar oleh Kim Bum karena sebelumnya, So Eun di undang ibu Kim Bum untuk makan malam bersama.

Ternyata sesampainya di rumah, ia telah di tunggu oleh ibunya. “So Eun~a, kenapa kau pulang semalam ini?”

Tak ada jawaban dari So Eun. Ibu So Eun jadi merasa sedih dan tidak enak dengan Kim Bum. “gumawo, telah mengantarkan So Eun pulang dengan selamat. Apa kau teman sekolah So Eun?”

“de, anyong haseyo ajuma… joneun, Kim Bum imnida.” Kim Bum membungkukkan badannya. Wajah So Eun kembali terlihat murung.

So Eun langsung masuk ke dalam rumahnya tanpa menunggu Kim Bum pulang. Kim Bum mengerti perasaan So Eun, yang masih belum bisa memaafkan ibunya. Karena sama halnya dengan Kim Bum yang juga masih belum bisa memaafkan ayahnya.

“maaf, permisi.. sudah malam, saya sebaiknya pulang..” pamit Kim Bum di ikuti anggukan ibu So Eun.

“jadi dia pria yang mengembalikan senyum So Eun..” batin ibu So Eun menatap kepergian Kim Bum.

So Eun mengamati kepergian Kim Bum melalui jendela kamarnya yang ada di lantai dua, ketika ia tak sengaja mengarahkan pandangannya lebih kebawah ia melihat sosok ibu yang sangat melukai hatinya. Sesaat ibu So Eun berbalik untuk masuk kedalam rumahnya, namun ia sempat mengarahkan pandangannya ke jendela kamar So Eun dan pandangan mereka bertemu. So Eun buru-buru menutup gorden jendelanya seolah tak ingin suasana seperti itu berlangsung lama. Melihat sikap anaknya yang masih saja dingin terhadapnya, ibu So Eun menunduk sedih.

oOo

Hari telah berganti hari, bulan pun ikut berganti.seluruh SMA di Korea Selatan juga telah usai melaksanakan ujian nasional. Kini hasil ujiannyapun telah di umumkan. So Eun berhasil lulus dengan nilai yang sempurna, tak heran karena So Eun yang notabenenya memang orang yang pandai.

Lain halnya dengan Kim Bum yang nilainya sangat mengecewakan, dan kenyataan buruknya adalah ia tidak lulus dalam ujian. Tak heran juga mengingat Kim Bum yang kemampuan akademiknya pas-pasan. Juga catatan merah yang memenuhi journalnya seperti telat, membolos, mengerjai guru, sering tak mengerjakan tugas, suka tidur di kelas, tak mengikuti ulangan harian dan yang paling parah adalah senang berkelahi dengan anak SMA lain. Terutama SMA Shinwa, SMA dimana Taemin adik tiri yang sangat dibencinya itu bersekolah.

So Eun sibuk mencari sosok Kim Bum dari tadi, ia prihatin atas kegagalan Kim Bum. Sampai ahirnya ia menemukan Kim Bum sendirian sedang duduk termenung di bawah pohon besar di belakang sekolahnya.

So Eun memandanginya lama, ia ingin menghampirinya namun kakinya berat untuk melangkah. Hati So Eun ikut sedih melihat pria yang dicintainya yang selalu nampak ceria untuk menemani dan menghiburnya kini terlihat sedih.”dia pasti sangat kecewa mengetahui dirinya tidak lulus..”

Tiba-tiba Kim Bum menoleh, dan tersenyum melihat So Eun. Ia lalu melambaikan tangannya untuk membuat So Eun menghampirinya.

So Eun~pun ikut duduk disamping Kim Bum.

“chukae, So Eun~a.. kau lulus dengan membanggakan.” Kim Bum memberi selamat atas keberhasilan So Eun.

“apa rasanya begitu sakit? Kau sedih kau tidak lulus tahun ini?” So Eun bertanya dengan nada hat-hati pada Kim Bum khawatir pertanyaannya akan membuat Kim Bum terluka.”jangan terlalu sedih, masih ada kesempatan tahun depan. Bersemangatlah belajar lebih giat. Dibalik semua ini pasti ada hikmahnya.”

“apa aku terlihat begitu menyedihkan?” Kim Bum malah tersenyum lucu menatap So Eun yang terlihat sangat mencemaskan keadaanya itu.

“aku sedih bukan karena hal ini, tahun lalu aku pernah tidak naik kelas. Hal ini sudah biasa bagiku jadi kau tenang saja..” aku Kim Bum masih dengan tersenyum.

So Eun terkejut mendengar pernyataan itu,”mwo?! Apa itu benar?! Kau sedang bercanda kan?”

“kenapa kau sekaget itu? Bukannya kau sudah tahu kalau aku ini memang bodoh.. kenapa? Baru tahu kalau aku lebih bodoh dari yang kau perkirakan…hehehehe” Kim Bum cengengesan seperti tak terjadi apa-apa.

“ani, aku terkejut karena kau memang sebodoh yang aku kira..”  bantah So Eun kesal merasa kekhawatirannya tadi sia-sia.

“aish.. kuau berani mencelaku…” Kim Bum mencubit gemas pipi cuby So Eun sebelah kanan.

“aaahh, sakit. Lepaskan!!” So Eun memukul pelan lengan Kim Bum. Kim Bum~pun melepaskan cubitannya dengan terus tersnyum lucu melihat So Eun yang cemberut.

“lalu, apa yang membuatmu terlihat sedih hari ini?”

Kim Bum menatap dalam mata So Eun, “kau tahu, mengapa aku sangat membenci appaku?”

So Eun menggeleng pertanda ia tidak tahu. Kim Bum mengalihkan pandanganya ke langit dan mulai bercerita.

Flashback

“Kim Bum~a, hari ini kau mau jalan-jalan kemana?” Tanya ayah Kim Bum saat usia Kim Bum sekitar  5tahun.

“appa, aku ingin ke kebun binatang” jawab Kim Bum yang terlihat menggemaskan itu.

“oh, benarkah.. memang kau ingin melihat binatang apa?” tanya ayah Kim Bum lagi.

“appa, aku ingin melihat ayam yang sedang tidur..” jawab Kim Bum kecil dengan polosnya.

Ayah Kim Bum langsung tertawa terbahak di buatnya.

“oh, chua~so.. ayo kita berangkat. Kaja!” Kim Bum di angkat ke pundak ayahnya.

Kim Bum sangat senang di gendong ayahnya seperti ini. Dengan tetap memegang kedua tangan Kim Bum agar tidak jauh, ayahnya berjalan dengan meneriakkan ‘inilah Kim Bum jagoan appa, inilah Kim Bum jagoan appa..’ sepanjang perjalanan pada setiap orang dengan bangganya. Kim Bum tersenyum gembira diperlakukan seperti itu.

Hal itulah yang paling disukai Kim Bum dari ayahnya. Yang selalu membuat Kim Bum merasa sangat disayangi juga di banggakan ayahnya. Kim Bum jadi sangat menyayangi ayahnya itu.

Hingga 2tahun kemudian,

“eomma, ada apa?” tanya Kim Bum kecil yang baru pulang sekolah melihat ibunya sedang menangis di ruang tamu.”kenapa eomma menangis?”

Ibu Kim Bum tak menjawab dan langsung memeluk anak semata wayangnya itu. Kim Bum kecil jadi bingung.”eomma, sebenarnya apa yang terjadi?”

Ibu Kim Bum melepaskan pelukannya, kedua tangannya memegang kedua pipi Kim Bum. Dengan masih menangis, ibu Kim Bum menguatkan diri untuk tetap bicara.

“Kim Bum, dengarkan eomma baik-baik. Mulai sekarang, kau akan tinggal berdua saja dengan eomma. Eomma akan menjagamu dengan baik, araso?” ibu Kim Bum terisak lalu memeluk Kim Bum kembali.

“berdua saja? Lalu appa gimana?”tanya Kim Bum polos.

“appamu telah pergi, mungkin dia tak akan kembali lagi. Jadi kau relakanlah, eomma janji akan membuatmu bahagia meski hanya seorang diri membesarkanmu.” Kim Bum langsung melepaskan pelukan ibunya saat mendengar penjelasan ibunya itu.

“gojimal, eomma kau sedang berbohong kan?” Kim Bum kecil menatap ibunya tak percaya.

“eomma mengerti ini berat bagimu, nak.. tapi eomma mohon percayalah pada eomma.” Ibu Kim Bum meyakinkan anaknya. Tapi anaknya, Kim Bum kecil malah berlari meninggalkannya.

“aku benci eomma…!!” Teriak Kim Bum kecil berlari menuju kamarnya.

Selama beberapa hari Kim Bum tidak mau berbicara dengan ibunya. Ibu Kim Bum sangat sedih beberapa hari ini. Hingga suatu hari, saat Kim Bum di ajak paksa oleh ibunya untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari ia melihat sosok yang beberapa hari ini menghilang dari hidupnya. Dan Kim Bum sangat merindukannya.

”appa..?!”  gumam Kim Bum pelan. Saat hendak berlari mendekati ayahnya, tiba-tiba ada seorang wanita dewasa yang cantik menghampiri ayahnya terlebih dahulu. Dan wanita itu menggandeng anak laki-laki kecil kira-kira  1 atau 2 tahun di bawah Kim Bum. Langkah Kim Bum terhenti ketika ia melihat ayahnya mengangkat tinggi-tingi anak lelaki itu lalu ia letakkan di pundaknya sambil berteriak, “inilah Lee Taemin jagoan appa, inilah Lee Taemin jagoan appa……”  dengan bangganya di hadapan para pengunjung.

Bagai di sambar petir, sakit rasanya melihat ada anak lain yang diperlakukan sama sepertinya oleh ayahnya sendiri. Cemburu, marah, benci, sakit rasanya bercampur jadi satu di benak Kim Bum yang masih kecil itu menjadi kesedihan yang luar biasa dalamnya. Ia memandang nanar keluarga yang terlihat bahagia itu sambil mengepalkan kedua telapak tangannya dengan kuat, ia mengingat nama ‘Lee Taemin’ yang dianggap telah merebut kasih sayang ayah serta kebahagiaannya.

Mulai saat itulah ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan pernah membiarkan anak laki-laki yang bernama Lee Taemin itu merasakan kebahagiaan.

Ibu Kim Bum heran melihat anaknya berdiri mematung dengan tatapan yang aneh menurutnya. Ia melayangkan pandangan yang masih ditatap Kim Bum, matanya terbelalak menyaksikan suaminya dengan keluarga lainnya. Ibu Kim Bum spontan menarik Kim Bum keluar dari pusat perbelanjaan itu.

Kim Bum menyadari satu hal bahwa ia telah salah sangka pada ibunya. Ia lalu meminta maaf pada ibunya. Kim Bum berjanji untuk tidah membuat ibunya bersedih. Namun, seiring berjalannya waktu, Kim Bum ternyata sangat sulit menerima kenyataan pahit itu. Rasa dendam yang besar menyelimuti hatinya. Ditujukan untuk ayah dan Taemin adik tirinya yang tak tahu menahu itu. Untuk menutupi rasa sakitnya, Kim Bum tumbuh jadi sosok yang ceria untuk tidak membuat ibunya bersedih. Namun disisi lain, ia menjadi seorang anak yang semaunya sendiri. Mungkin juga akibat ibunya yang sangat memanjakan Kim Bum.

End flashback

So Eun menggenggam erat tangan Kim Bum, mencoba menstranfer sedikit kekuatan untuknya yang melemah saat menceritakan masa lalunya.

Kim Bum menyandarkan kepalanya di bahu So Eun, ia merasa kepalanya makin berat saat mengingat kejadian itu.

“So Eun~a, apa kau bisa melupakan masalalu pahitmu?” tanya Kim Bum yang masih bersandar pada bahu So Eun.

Tak ada jawaban dari So Eun.

“apakah kau benar-benar tak bisa memaafkan ibumu, sekalipun beliau telah menyesal?” lanjut Kim Bum dengan suaranya yang terdengar lemah.

“kemane, Kim Bum..!! aku tak ingin membahas hal itu.” Jawab So Eun dengan suaranya yang tak kalah lemah.

Kim Bum kini mengangkat kepalanya kembali. “kurasa sudah cukup kau menghukum ibumu seperti itu, ini saatnya dirimu untuk memaafkannya..”

“Kim Bum cukup!! Sudah ku bilang jangan membahasnya lagi!” So Eun kini benar-benar marah. Ia lalu berdiri dan pergi meninggalkan Kim Bum sendirian.

“seharusnya Kau memaafkan ibumu sebelum kau menyesal sepertiku, So Eun..” batin Kim Bum menatap kepergian So Eun.

oOo

Kim Bum menghampiri So Eun yang duduk sendirian dikelasnya.

“So Eun~a, mianhe.. apa kau masih marah padaku?” Kim Bum duduk disebelah So Eun.

“aniyo, aku tidak marah padamu. Kau tak perlu meminta maaf padaku.” Jawab So Eun membuat Kim Bum lega mendengarnya.

Keadaan hening sesaat. Keduanya diam.

“kapan kau berangkat ke Swedia?” tanya Kim Bum memecahkan keheningan, “apa kau sudah menghubungi appamu?”

So Eun mengangguk,”ne.. aku sudah memberi tahu appa. Minggu depan aku berangkat.”

“mwo?! Secepat itukah?” Kim Bum terkejut dengan pemberitahuan So Eun.”kita bahkan belum sempat jalan bersama. Apa kau tidak bisa menundanya?”

“aniya, aku sudah mendaftar ke universitas disana. Aku harus segera memenuhi administrasinya kesana.” Jawab So Eun dengan wajah sedikit menyesal melihat Kim Bum.

“kalau begitu batalkan saja, tunggu sampai aku lulus tahun depan. Kita pergi sama-sama!” ajak Kim Bum dengan penuh semagat dan harapan.

“mana bisa seperti itu, salahmu sendiri kenapa begitu bodoh?!” Kim Bum jadi cemberut mendengar  ucapan So Eun.

“lagi pula aku sudah sangat merindukan appa..” lanjut So Eun. Dan kini Kim Bum maklum kenapa So Eun ingin segera terbang ke Swedia.

oOo

Tiba saatnya So Eun bersiap, 2 hari lagi adalah hari keberangkatannya ke Swedia. Ia sedang mengemasi pakaiannya ke sebuah koper yang besar. Ibu So Eun mengamati dari balik pintu kamar So Eun yang sedikit terbuka.

Ibu So Eun mengetahui rencana So Eun untuk melanjutkan sekolahnya ke Swedia itu dari guru SMAnya. Ibu So Eun sangat sedih mengetahui anak satu-satunya itu akan pergi meninggalkannya sebelum sempat merubah keadaan buruk hubungan mereka dan memaafkannya. Ia tak tahu apakah akan kembali lagi padanya atau tidak sebelum ajal menjemputnya. Ibu So Eun begitu ingin memeluk anaknya.

Kemudian Kim Bum datang ke rumah So Eun. Ibu So Eun mempersilakan Kim Bum masuk. Kim Bum bisa melihat raut wajah ibu So Eun yang sangat sedih dan Nampak habis menangis, Kim Bum rasa ia tahu penyebabnya.

“So Eun~a…” panggil Kim Bum begitu sampai di pintu kamar So Eun. So Eun menoleh dan tersenyum.

Kim Bum menghampiri So Eun,”kau sudah siap-siap? Apa sudah benar-benar tidak bisa di tunda lagi?”

“apa kau datang untuk mencoba menghalangiku? Usahamu itu akan sia-sia, Kim Bum…” jawab So Eun lembut.

“araso, tapi aku kesini ada hal lain yang ingin aku bicarakan denganmu.” Kini Kim Bum memasang wajah serius.

So Eun merasa Kim Bum benar-benar ingin menyampaikan suatu hal yang sangat penting untuknya. Tapi ia juga merasa takut jika ia akan membahas masalah antara ia dan ibunya, dan So Eun enggan membahasnya. “kau mau bicara apa, aku sedang malas membicarakan hal sepele namun bisa membuatku terluka”

“aniya.. aku hanya ingin bercerita, apa kau mau mendengarkanku?” kimbum menyentuh tangan So Eun, menghentikannya sebentar untuk tidak menjejalkan bajunya lagi dalam koper.

So Eun memandang mata Kim Bum yang tampak sangat berharap So Eun mau menurutinya. Lalu Kim Bum menggandeng So Eun dan menuntunnya untuk duduk di tempat tidur, dan Kim Bum ikut duduk disampingnya.

Dengan tetap memegang tangan So Eun, Kim Bum mulai pembicaraannya.

”kau tahu, aku baru saja darimana?”So Eun tak menjawab namun masih memperhatikan Kim Bum.

“aku, baru saja dari pemakaman appaku” lanjut Kim Bum sontak membuat So Eun memandangnya tak percaya. Ia tahu betul bagaimana Kim Bum sangat membenci ayahnya itu. Jadi mana mungkin…?

“lalu, apa yang kau lakukan?” kini So Eun sungguh-sungguh ingin mengetahui kelanjutan cerita Kim Bum.

“menurutmu?! Tentu saja aku mengunjunginya. Apa kau berfikir aku akan membongkar makamnya lalu memberikan tulangnya pada anjing-anjing tetanggaku?!hehehehe…” Kim Bum sengaja membuat lelucon pada jawabannya agar So Eun tertawa karena Kim Bum melihat So Eun begitu serius mendengarkannya.

Namun ternyata gagal, So Eun sama sekali tidak merasa lucu. So Eun berfikir mungkin saja Kim Bum benar-benar melakukan hal itu karena rasa bencinya.

“So Eun~a, aku tidak lucu ya?!” Kim Bm mengguncang kecil tangan So Eun yang dari tadi di genggamnya.

“kau mengunjunginya…?!” tanya So Eun masih tak percaya. Kim Bum tersenyum tulus dan mengangguk.

“tadi aku membawakan 59 mawar putih, sama saat usia appa meninggal. Seperti kebiasaan eomma saat mengunjungi makam appa.” Cerita Kim Bum dengan wajah ceria dan tulus, tak seperti biasanya saat ia menceritakan ayahnya.

Dan So Eun menjadi makin bingung mendengar Kim Bum menyebut ayahnya dengan sebutan ‘appa’, biasanya Cuma dengan kata ‘dia’.

“aku tadi bercerita banyak pada appa, menceritakan keadaanku selama ini bersama eomma. Menceritakan teman-temanku juga seorang gadis yang sangat aku cintai saat ini dan sampai kapanpun, yaitu kau.” Dengan senyum bahagia Kim Bum terus saja bercerita. “aku juga menceritakan tentang Taemin adikku,”

“apa kau sadar dengan apa yang telah kau lakukan?” So Eun memastikan bahwa ia tak salah mendengar.

“kau tidak percaya?! Bahkan aku telah memaafkannya, saat aku datang ke pemakamannya tadi rasanya sangat damai. Hatiku tulus memaafkan appa seketika, aku tak tahu dengan apa yang terjadi pada diriku. Yang pasti aku merasa sangat lega. Dang hatiku sungguh tenang sekarang.” So Eun dapat melihat kebahagiaan yang beda dimata Kim Bum yang memang belum pernah ia lihat sebelumnya. So Eun kini ikut tersenyum.

“bukan itu saja, So Eun..” Kim Bum melanjutkan.”aku juga datang kerumah Taemin, awalnya ia sangat terkejut melihatku. Dia mengiraku akan membuat ulah dirumahnya. Saat ia mau memukulku, untung saja ada eommanya yang menahannya. Lalu menyuruhku masuk dan menanyakan baik-baik maksud kedatanganku.”

So Eun mengangkat alisnya,

”aku tak menyangka Kim Bum akan melakukan hal itu. Tapi aku senang mendengarnya..” gumam So Eun dalam hati, bibirnya tersenyum manis.

“saat aku menceritakan semuanya pada Taemin dan ibunya, tak kusangka mereka akan meresponku dengan baik. Bahkan Taemin langsung memelukku dan memanggilku ‘hyung’. Entah kenapa aku sangat senang akan hal ini. Ternyata Taemin sudah mengetahui lama bahwa ia punya saudara dari istri pertama appa. Hanya saja ia tak mengira bahwa akulah hyung~nya. Akupun meminta maaf padanya atas semua kekesalanku yang aku lampiaskan padanya. Dan dengan mudahnya meraka langsung memaafkanku.Taemin juga meminta maaf karena telah sempat melukaiku waktu itu. Dia bilang sangat menyesal.” Jelas Kim Bum. So Eun sangat tersentuh hatinya.

“rasanya aku seperti terlahir kembali, kini aku punya dua ibu dan seorang adik lelaki yang sangat aku sayangi, dan aku juga memiliki dirimu yang begitu aku cintai. Aahh… ” Kim Bum menghirup udara dalam-dalam lalu mengeluarkannya kembali perlahan. Dengan tetap menyunggingkan senyum kebahagiannya, Kim Bum melanjutkan ceritanya lagi.

“ternyata benar apa yang dikatakan eomma, memaafkan seseorang tidaklah sesulit apa yang kita bayangkan. Lihat saja aku yang selalu gelisah memikirkan bagaimana cara untuk balas dendam pada appa dengan tidak membiarkan Taemin bahagia, malahan aku sendiri kan yang susah dan tak bahagia. Aku jadi berandalan yang kerjaannya hanya berkelahi, sama sekali tidak memikirkan masa depanku. Dan sekarang aku menjadi bodoh dan tidak lulus-lulus sekolah.. mau jadi apa coba?” Kim Bum mengarahkan pertanyaan pada dirinya sendiri. “jadi aku sendiri yang menderita, bukan hanya orang lain.”

Dalam hati So Eun sangat bangga dengan kekasihnya ini, “aku baru lihat Kim Bum akan bisa sedewasa ini, aku memang beruntung memilikinya.”

“kau kenapa dari tadi diam saja, dan kenapa memandangku dengan ekspresi seperti itu? Apa aku terlihat keren, sekarang?!” Kim Bum menggoda So Eun dengan gaya narsisnya.

So Eun mengangguk semangat dan tersenyum. Kim Bum tak menyangka So Eun menjawab antusias candaannya itu, biasanya So Eun cuek saja tak menghiraukan.

“wah, apakah itu suatu bentuk pujian untukku?” Kim Bum senang dan merasa tersanjung.

“ne, aku hampir tak mengenali dirimu yang sekarang ini. Kuakui Kim Bum, kau memang sangat keren..!!” aku So Eun membuat Kim Bum semakin bangga. Namun Kim Bum kembali serius menatap So Eun, ia membelai rambut panjang So Eun yang terurai.

“aku telah melepaskan semua kebencianku dan memaafkan mereka semua. Kini giliranmu memaafkan eommamu, So Eun..” kalimat Kim Bum sangat halus namun membuat So Eun merasakan sesak didadanya.

“kau janganlah terus mengingat kesalahannya, lihat juga keadaannya sekarang. Jika eommamu benar-benar telah menyesalinya, berilah ia kesempatan. Jangan kau siksa dirimu sendiri dengan rasa benci itu, liahatlah aku.. aku tahu kau begitu menderita, akupun pernah merasakannya.. eommamu juga menderita, So Eun. Bukalah hatimu, sangatlah mudah untuk memaafkan orang lain. Percayalah padaku, sebelum semuanya terlambat..!!” Kim Bum sepertinya kali ini berhasil meluluhkan hati So Eun.

Entah sejak kapan So Eun mulai menitikan air matanya, sekarang ia telah benar-benar menangis. Kim Bum~pun memeluk So Eun.

“aku tak tahu, Kim Bum.. aku tak tahu aku harus bagaimana, munafik jika aku bilang tak merindukan eomma.. tapi aku masih sangat sakit jika mengingat eomma yang……hikz..hikz..” So Eun rasanya tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Kim Bum menenangkan So Eun dengan terus mengusap kepalanya yang tenggelam di dada Kim Bum.

“kau benar, Kim Bum.. aku sangat menderita selama ini.. tapi, apakah aku bisa melupakan kejadian itu, jujur aku malu dan sakit saat melihat eomma..” lanjut So Eun masih dengan menangis.

Kim Bum mengangkat kepala So Eun dengan kedua tangannya yang ia letakkan pada kedua sisi pipi So Eun, lalu mengarahkan wajahnya untuk berhadapan dengannya. Kim Bum menatap mata So Eun dalam-dalam.

“dengarkan aku, So Eun.. aku yakin kau bisa. Percayalah, eommamu juga sangat terluka dengan sikapmu selama ini. Ia juga menderita sama halnya sepertimu.. sebelum kau menyesal sepertiku So Eun, kini kau berhak bahagia tanpa mengingat masalalumu. Biarkan saja saat-saat beratmu itu berlalu, hiduplah dengan damai bersama orang-orang di sekelilingmu yang kau cintai, bukalah pintu maafmu untuk eommamu.. mulai sekarang, penuhi hatimu dengan cinta dan buang jauh-jauh rasa bencimu.” Kim Bum meyakinkan So Eun.

Tanpa mereka berdua sadari ternyata ibu So Eun mendengarkan semua percakapan So Eun dan Kim Bum. Ibu So Eun memberanikan diri untuk mendekati mereka. Kim Bum melepaskan tangannya melihat kehadiran ibu So Eun, So Eun masi menangis melihat ibunya. Begitupun ibu So Eun juga menangis menatap So Eun.

“mianhe, So Eun~a.. jeongmal mianheyo…hikz..hikz..”untuk kesekian kalinya ibu So Eun meminta maaf, dan selalu di acuhkan So Eun. Tapi tidak untuk kali ini.

So Eun bangkit dari posisi duduknya dan langsung memeluk erat ibunya. Ibunya sempat kaget namun sedetik kemudian ia membalas memeluk anaknya erat, kerinduan mereka seperti telah satu abat tak bertemu. So Eun sadar saat memeluk ibunya, ia merasa berbeda dengan ibu yang setahun lebih yang lalu ia peluk. So Eum merasa ibunya jauh lebih kurus dibandingkan dahulu.

“na do mianhe, eomma…” So Eun merasa bersalah selama ini telah membuat ibunya sendiri menderita. Ia merasa keterlaluan menghukum ibunya.”eomma, kenapa kau sangat kurus sekarang? Apa karena memikirkanku? Mianhe eomma… aku bukan anak yang berbakti.”

“ani So Eun, semua ini karena kesalahan eomma sendiri. Eomma senang kau mau memaafkan eomma.”

Kim Bum keluar dari kamar So Eun, ia sengaja memberi kesempatan ibu dan anak itu untuk saling bicara setelah selama setahun lebih komunikasi antara mereka tak terjalin dengan baik.

oOo

Dua hari kemudian So Eun berangkat ke Swedia dengan diantar oleh ibunya, ibu Kim Bum dan tentu saja Kim Bum sendiri.

“So Eun~a, jaga dirimu baik-baik ya.. makan yang teratur dan jangan lupa vitaminmu. Jadilah anak yang baik dan jangan menyusahkan appamu. Eomma akan merindukanmu..” pesan ibu So Eun pada anaknya itu ketika di bandara sambil memeluknya.

“de, eomma.. eomma juga harus berjanji padaku untuk selalu menjaga kesehatan eomma. Aku juga akan sangat merindukan eomma.” So Eun melepaskan pelukan eommanya lalu dilanjutkan memeluk ibu Kim Bum.

“ eomma, aku berangkat dulu..” pamit So Eun pada ibu Kim Bum.

“jagalah dirimu baikik-baik, kami menunggumu segera kembali dengan harapan kau membuat kami bangga. Jangan kecewakan orang tuamu, So Eun~a..” pesan ibu Kim Bum dan So Eun mengangguk masih dalam pelukan ibu Kim Bum.

“sudah eomma, jangan lama-lama.. aku juga kan menunggu giliran.” I bu Kim Bum melepaskan pelukannya, lalu mempersilakan So Eun untuk mendekati Kim Bum. So Eun menurutinya dengan malu-malu, ibu Kim Bum dan ibu So Eun saling pandang kemudian tersenyum geli melihat tingkah dua anak mereka.

“Kim Bum~a, kau harus belajar yang rajin dan janjilah padaku untuk tidak nakal lagi. Dengarkan nasehat eomma, araso?!” pesan So Eun pada Kim Bum.

“aish, So Eun~a.. kenapa kau jadi cerwet sekali..” Kim Bum menarik tangan  So Eun agar dapat memeluknya. “aku akan sangat merindukanmu, So Eun~ssi.. kau harus selalu memberi kabar padaku setiap jam, arasso?!”

“kau pikir aku tak ada kerjaan lain disana?!” ujar So Eun melepaskan pelukan Kim Bum.”akupun akan sangat merindukanmu Kim Bum~ssi, cepatlah lulus dan temui aku segera!” So Eun mencium pipi Kim Bum cepat dengan mata berkaca-kaca.

Kim Bum menarik bagian belakang leher So Eun lalu mendekatkan pada wajahnya dan mencium lembut kening So Eun.

“tunggulah aku..!!” ujar Kim Bum lalu mereka berpelukan kembali.

“So Eun~a, ini sudah waktunya kau berangkat. Jangan sampai kau ketinggalan pesawatmu.” Ibu So Eun mengingatkan. Kim Bum dan So Eun~pun melepaskan pelukannya.

“ne, semuanya.. aku berangkat dulu..” So Eun sempat melambaikan tagannya sebelum meninggalkan mereka semua.

oOo

Sejak So Eun berada di Swedia, Kim Bum kini lebih serius dalam sekolahnya. Ia sangat tekun belajar. Meskipun begitu, ia tak lupa untuk selalu rajin menghubungi So Eun lewat email maupun twitter.

Selain itu, hubungannya dengan Taemin juga semakin akrab layaknya saudara kandung. Kim Bum kini tak sendiri lagi bila bermain game, ia mendapatkan partner yang seimbang dengannya.

Tak terasa, setahun telah ia lewati. Usaha Kim Bum sungguh-sungguh membuahkan hasil yang manis. Ia sekarang telah berhasil lulus SMA dengan nilai yang bagus. Ia sangat senang dan tak sabar untuk menyusul So Eun, gadis yang sangat ia rindukan itu. Kim Bum telah mendaftar di universitas tempat So Eun berkuliah. So Eun sangat senang ketika mendengar hal ini, ia~pun tak sabar untuk melepas kerinduannya dengan Kim Bum, namun…

“Mianhe, So Eun..” ucap Kim Bum ketika menelfon So Eun.

“waeyo..?!” jawab So Eun dari sebrang telfon.

“aku memang berhasil lulus dalam ujian, tapi rupanya universitas tidak menerimaku. Aku tidak lolos seleksinya, So Eun~a..” ujar Kim Bum putus asa.

So Eun sedih mendengarnya, tapi ia tak ingin terlalu kecewa. Walaupun begitu Kim Bum telah berusaha dengan keras.

“gweancanayo, Kim Bum.. mungkin universitas di Korea yang lebih baik untukmu, kau jangan terlalu sedih ya.. aku tahu kau sudah melakukan yang terbaik.” So Eun mencoba menguatkan hati Kim Bum meski dirinya sendiri sebenarnya lemah.”sepertinya kita harus bersabar untuk bisa bertemu.”

“ne, kau benar.. padahal aku sangat merindukanmu.” ujar Kim Bum.

“aku juga, Kim Bum… “ jawab So Eun lembut.

“benarkah?!”

So Eun seperti mendengar suara Kim Bum di dekatnya, tapi tak melalui telfon. So Eun menoleh ke arah yang ia rasa asal suara Kim Bum. Dan betapa terkejutnya So Eun melihat Kim Bum telah ada di hadapannya berdiri di samping appa So Eun dengan membawa sebuket mawar putih yang segar, sesegar senyumannya.

“Kim Bum…?!” So Eun menatap tak percaya tetap meletakkan ponselnya pada telinganya.

“apa kabar So Eun, lama tak bertemu kau semakin terlihat manis..” Kim Bum melambaikan tangannya yang masih memegang ponselnya lalu mematikan ponsel yang tadi ia gunakan bicara pada So Eun.

So Eun tersadar dari kebengongannya dan mengikuti Kim Bum meletakkan ponselnya yang dari tadi masih melekatkan pada telinganya meski nyata-nyata Kim Bum ada di hadapannya.

So Eun berlari dan memeluk Kim Bum. Kim Bum menyambut pelukannya.

“Kim Bum, kau membohongiku. Dasar jahat!” gerutu So Eun pada Kim Bum saat dalam pelukan.

“mianhe, So Eun.. aku ingin memberi kejutan padamu.” Kim Bum membelai lembut rambut So Eun.

“So Eun~a, nanti saja kangen-kangenannya. Biarkan Kim Bum istirahat. Ia kan baru saja sampai, perjalanan pasti membuatnya sangat lelah.” Ujar ayah So Eun.

 So Eun melepaskan pelukannya, mereka makan bersama sebelum Kim Bum dipersilakan untuk beristirahat.

“So Eun~a, antarkan Kim Bum ke kamarnya untuk istirahat. Appa sudah siapkan kamar yang istimewa untuk calon menantu appa. Hahaha..” perintah ayah So Eun setelah usai makan. Menyebut sebagai calon menantu, membuat wajah Kim Bum memerah.

“khamsa hamida,” Kim Bum membungkuk pada ayah So Eun.

“appa tahu Kim Bum akan datang?! Kalian bersekongkol untuk mengerjaiku?!” ucap So Eun dengan wajahnya yang cemberut kesal merasa telah dibodohi.

“aniya, eommamu yang memintaku melakukannya..” bela ayah So Eun. “kemarin ia bilang saat aku menelfonnya.”

“appa bilang eomma, appa menelfon eomma?! Berarti eomma dan appa bicara?!” So Eun kaget mendengar jawaban ayahnya itu. Setahu So Eun, ayahnya tak pernah lagi berhubungan dengan ibu So Eun saat mereka sepakat untuk bercerai beberapa tahun lalu.

“ne, apa kau senang jika kita kembali berkumpul lagi seperti dulu?” terang ayah So Eun dengan senyum cerahnya.

“appa  juga telah memaafkan eomma?” selidik So Eun. “tapi sejak kapan? Kenapa aku tiak tahu?”

“ah, sudahlah So Eun jangan ungkit masa lalu lagi. Yang pasti sekarang aku yakin eommamu tak akan mengulangi kesalahannya lagi.”

So Eun dan Kim Bum saling pandang, lalu saling tersenyum. So Eun bangkit memeluk ayahnya. “appa, aku sangat menyayangimu. Cup” So Eun mencium pipi ayahnya.

“begitu juga appa, So Eun.. sudah sana, antar Kim Bum beristirahat.” Ujar yah So Eun.

So Eun mengantar Kim Bum di kamarnnya.

“kau suka dengan kamarnya?” tanya So Eun sesampainya di kamar Kim Bum.

“ne, sangat indah..” jawab Kim Bum yang matanya berkeliling memandang setiap sudut kamarnya.

“Kim Bum~a, gomawo..” ucap So Eun tiba-tiba, membuat mata Kim Bum beralih untuk menatap So Eun.

“terimakasih untuk….?” Tanya Kim Bum tak mengerti.

“kebahagianku yang dulu sempat hilang kini telah kembali kurasakan, bahkan aku lebih bhagia sekarang. Dan semua ini berkatmu.. sekali lagi gomawo.” Ujar So Eun

“bukan aku, So Eun.. tapi memang karena kau sendiri yang mampu menghhilangkan rasa benci dihatimu yang sangat menyiksa itu.” Jelas Kim Bum lembut dan menatap mata So Eun dalam.

Kim Bum mendekatkan wajahnya pada wajah So Eun, semakin dekat dan semakin dekat. Mata So Eun terpejam perlahan merasakan bibir Kim Bum dan bibirnya berpaut.

“saranghe, So Eun~a…” ujar Kim Bum melepaskan ciumannya.

“na do saranghe, Kim Bum~a..” jawab So Eun lalu Kim Bum kembali menciumnya lebih dalam dan lebih lama. So Eun membalas dan menikmatinya. Seiring dengan rasa bahagia dihatinya.

 

_The End_

_oOo_

Wah, akhirnya selesai juga ff GaJe saya ini.. ^__^

Bagaimana reader, aneh~kah dengan endingnya?! Atau memang semuanya dari awal sudah aneh?!hehe ;p

Maaf  jika ceritanya berbelit-belit dan bertele-tele jadi membuat reader bingung. Tapi sungguh maksud author baik.hehe ^___^

Terima kasih telah membaca sampai akhir, tapi author juga punya satu lagi part specialnya. Sudikah reader membacanya untuk lebih afdholnya?! Hehehehe,

Tolong coment dan vote ya, cingu.. author sangat berharap untuk kedepannya lagi nanti. ^__^

Owh iya, author mau numpang promo lagi:

Foll saya: @emerald_elz

Add juga FB saya:  Elza Uswatun Khasanah

Berharap mendapat banyak teman baru. Khamsa hamida.. ^_^

 

 

4 responses to “아직도 그 사람 미워요? Part 3

  1. Febi_

    Januari 8, 2012 at 5:34 am

    wah, aku baru tau loh kak, ada fanfic bumsso disini. aku baca dulu ya kak dari part 1 . ^^

     
    • elza

      Januari 8, 2012 at 9:10 am

      Ok febi.. sebenernya ff ini udh ada d BSI.. ini web bwt tgz kul, aq asal isi tulisan2 aq aja..heuheu *curcol >.<

      enjoy reading cingu.. ^_^

       
  2. geill

    Februari 8, 2012 at 7:33 am

    hahahahahaha…………………………akhirnya berakhir dgn happy ending…….the best deh ceritanya………..siapa blg endingnya aneh, gak kok…..ok malah……
    ceritanya jempolan deh, ada sedih, lucu, romantis, pokoknya paket complit….hehehehehehe……………oh ya ada prt spesialnya jg ya???????……q langsung terbang ke part spesialnya ya………….hahahahahaha………………………..
    ghomawo dah buat cerita yg bagus ini………..

     
    • Elza

      Februari 11, 2012 at 9:01 am

      weheheheee.. komplit kaya’ bakso aja…
      makacih cingu da baca ff mpe akhir… ^_^
      jd pengen nulis lg.. mumpung mood on😛

      tp blm dpt inspirasi yg ngeh.. >,<*curcol…

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  •  
    %d blogger menyukai ini: